My Wedding Anniversary

Posted by Ichsan Jufri on 09 October 2017

Kemarin tepat
84 bulan, 
336 pekan,
2.555 hari,
61.320 jam,
3.679.200 menit,
220.752.000 detik,
22.075.200.000 milidetik
Saat ku halalkan engkau dari orang tua,
Seperangkat alat sholat menjadi mahar cintaku
Dan Seketika dunia terasa milik kita berdua
Saat itu ingatlah, betapa banyak senyum yang mengiringi kita
dalam memulai bahtera rumah tangga
Saat itu kita dengarkan, betapa banyak doa yang diaminkan untuk keberkahan
dan harapan-harapan mereka untuk kita hingga dipenghujung usia
Saat itu kita berikrar, bukan sekedar asmara berbuah dosa
karena asmara kita adalah ibadah penyempurna iman
Dipersaksikan oleh mata-mata penuh cinta telah kita abadikan rasa
Dan disinilah kita memulai bahtera rumah tangga.

ALLAHUMMA INNI AS-ALUKA KHAIRAHA WA KHAIRA MA JABALTAHA 'ALAIHI, WA A'UDZUBIKA MIN SYARRIHA WA SYARRI MA JABALTAHA 'ALAIH“Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepadaMu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepadaMu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya”

Ditahun pertama amanah itu hadir
dengan rupa bidadari mungil yang lucu
dan ditahun kedua amanah itu kembali
dengan rupa malaikat kecil yang ganteng lagi perkasa.
Sepasang buah hati, sebagai bukti kita telah dipercaya olehNya
Menjadi satu dalam suka cita,
Kau dan aku menjadi kita,
Dalam bahagia dan derita kita jalani bersama...

ROBBANAA HABLANAA MIN AZWAAJINAA WADZURRIYYAATINAA QURROTA A’YUN WAJ ‘ALNAA LIL MUTTAQIINA IMAAMAA”. Artinya:“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri2 kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami imam bagi orang2 yang bertakwa”. (Q.S. 25 : 74)











081010_081017
More aboutMy Wedding Anniversary

ibarat ngopi

Posted by Ichsan Jufri on 04 October 2017

Berumah tangga itu ibarat ngopi. Takarannya gak melulu pas.
Kadang manisnya lebih terasa,
suatu waktu pahitnya pun dominan.
Jangan kau hindari.
Nikmati saja hingga suatu saat kau terbiasa.
Ketika rumah tanggamu sudah jadi candu bagimu,
maka percayalah bahwa gak ada regukan yg
lebih nikmat di luar sana.

|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Berumah tangga itu ibarat ngopi.
Harga kopi di kafe tentu beda dengan harga kopi di warung,
meski rasanya sama.
Karena yg dibeli sebenarnya bukan semata-mata kopinya,
melainkan suasananya.

Karena itu mahalkanlah suasana rumah tanggamu.
Buatlah berkualitas setiap waktu kebersamaanmu.

|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|

Berumah tangga itu ibarat ngopi.
Jika kau hanya mau manisnya saja, jangan ngopi, tapi minumlah sirup.
Sirup adalah rasa manis yg dinikmati oleh mereka yang memutuskan pilihan hidup single. Gak ada pilihan lain selain manis. Memang manis, tapi tentu saja gak senikmat kopi. Demikian pula jika kau hanya menikmati sensasi pahitnya saja. Jangan ngopi, tapi minumlah jamu. Nah itulah jomblo.

|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|

Berumah tangga itu ibarat ngopi.
Para pengopi adalah orang-orang yg terlatih dalam menakar hidup.
Istri pemasak airnya, suami baristanya.
Dibutuhkan kerja sama yg cermat mulai dari proses hingga hasil.

Orang-orang hanya boleh melihat asap yg mengepul dan aroma yg wangi,
tanpa perlu tau gimana berantakannya dapurmu.

|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|

Berumah tangga itu ibarat ngopi.
Soal rasa yg utama.
Nikmatnya ada di permukaan,
ampasnya cukup kau sembunyikan,
jika perlu endapkan hingga ke dasar terdalam gelasmu.
Jangan kau umbar pada siapapun bahkan ke orang-orang terdekatmu.
Jika rumah tanggamu ibarat kafe besar,
tentu saja konyol membagi rahasia racikanmu.

|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|

Berumah tangga itu ibarat ngopi.
Kadangkala ada pihak ke tiga yg mencampuri,
otomatis menambah gurih, tapi bisa pula sebaliknya.
Taruhlah seperti krimer atau susu.
Jika krimer atau susunya kebanyakan,
maka berpotensi mengurangi kenikmatan.
Krimer itu bisa berwujud saudara atau ipar-ipar,
sementara susu itu anggap saja mertua.
Campuran lain yg mematikan adalah sianida.
Kalo yg ini sudah pasti mantan.
Maka buang jauh-jauh.
Pastikan gelasnya bersih sebelum menuang kopi yg baru.

|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|

Berumah tangga itu ibarat ngopi.
Kau tentu gak sudi jika ada yg mencoba
mengaduk kopi di gelas istrimu.
Tapi sebaiknya kembalikan juga pada dirimu,
apa kau yakin gak pernah menikmati adukan kopi yg lain?
Demikianlah cemburu. Akarnya adalah ketidaknyamanan.
Jangan sepelekan selingkuh-selingkuh kecil,
karena ia adalah awal pengkhianatan terhadap kasih sayang.

|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|

Berumah tangga itu ibarat ngopi.
Jangan berharap kesempurnaan pada segelas kopi yg murahan.
Jangan menuntut berlebihan, jika kau sendiri main belakang.
Kau tanamkan pada istrimu definisi setia,
sementara kau sibuk menjempol foto profil wanita.
Jika bersama, kau bermanja-manja, oh my wife.. Oh my wife..
Tapi jika ia gak ada, kau berasyik masyuk dengan bigo live.
Lalu kesetiaan mana yg kau maksud?
|

|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|

Berumah tangga itu ibarat ngopi.
Kebanyakan ngopi di kafe,
niscaya akan membuatmu merasa hambar pada kopi di rumah.
Kebanyakan urusan di luar,
biasanya akan membuatmu gak peka pada masalah internal.
Jika istrimu bermuka masam,
cari tau jangan hanya diam.
Mungkin ia lelah, mungkin pula kau ada salah.
Sekali-sekali, rengkuhlah ia dari belakang,
belai rambutnya, dan bisikkan lembut di telinganya:
“Sayang.. Postingan tas yg waktu itu kau jempol di olshop,
sekarang sudah pre order loh. Mau aku transferin?”

|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|

Happy international coffee day.
Happy family every day.
Kopi boleh pahit, rumah tanggamu jangan..


Source : Arham Rasyid
More aboutibarat ngopi

MENCINTAI AL-QURAN

Posted by Ichsan Jufri on 02 October 2017

Pesan Pasca Ramadhan (12 Muharam 1439H) MENCINTAI AL-QURAN

Azizul Hakim adalah seorang hafidz yang tamat dari Program Pendidikan Tahfiz, Pesantren Darul Istiqomah, Maros. Kemarin ia baru tiba di Makassar setelah diminta sejak awal Ramadhan, menjadi imam di mesjid al-Hikmah, New York, Amerika Serikat. Dia menceritakan pengalamannya selama berada di New York dan bagaimana sambutan ummat muslim di sana khususnya orang Indonesia. Saat ini Aziz sedang menempuh pendidikan S1 dalam bidang Ilmu Komunikasi di Universitas Hasanuddin. Sebelum ke Amerika kemarin dia menikah dengan seorang penghapal Al-Qur'an juga, anak salah seorang pembina di Pesantren Darul istiqomah, dan juga cucu pimpinan pesantren.

Aziz merasa bahagia dengan apa yang dicapai selama ini dan semua itu karena cintanya kepada Al-Qur'an. di depan ratusan santri dan warga pesantren, dia berpesan bahwa bacalah Al-Qur'an setiap hari dan jadilah orang yang mencintai Al-Qur'an. Tidak ada orang yang sengsara hidupnya dengan Al-Qur'an, tidak ada orang menjadi pengangguran dengan Al-Qur'an, tidak ada orang putus asa dengan Al-Qur'an, tidak ada orang yang sulit ketemu jodoh dengan Al-Qur'an.  Dia juga menambahkan bahwa menghormati ke dua orang tua itu sangat penting. "Berusahalah untuk senantiasa berterima kasih kepada mereka," katanya.

Allah telah mengingatkan kita lewat Rasul-nya bahwa Al-Qur'an itu tidak bermaksud untuk menyusahkan kita. Al-Qur'an bukan sembarang kitab. Al-Qur'an bukanlah perkataan-perkataan kosong. Bukan ciptaan manusia yang paling cerdas di dunia. Bukan datang dari makhluk di luar angkasa. Al-Qur'an diturunkan oleh Tuhan yang menciptakan alam semesta ini. Al-Qur'an sebagai obat, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang yakin.

Maha Benar Allah dengan firman-Nya: Thaahaa, maa anzalnaa 'alaikal quraana litasqaa, illaa tadzkiratal limay yakhsyaa (QS Thaha 20:1-3). Artinya: Thaha, Kami tidak menurunkan Al-Qur'an ini kepadamu (Muhammad) agar kamu menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut kepada Allah.

CINTAILAH AL-QUR'AN AGAR KEBAHAGIAAN SELALU MENYERTAIMU.

Oleh : Prof. Veni HadjuSaat ini beliau mengajar di FKM Unhas untuk program studi S1 Gizi.  Terlibat dalam program S2 di FKM mengajar Filsafat Ilmu dan SLLO. Di PS S3 Kedokteran mengajar Community Medicine, 

More aboutMENCINTAI AL-QURAN

Jangan Takut Berkorban Agar Kalian tidak Menjadi Korban

Posted by Ichsan Jufri on 27 September 2017

Jangan Takut Berkorban, Agar Kalian Tidak Menjadi Korban...___KH. Hasyim Muzadi - rahimahullah_____

Apa yang beliau sampaikan benar. Kekalahan kaum muslimin disebabkan karena mereka lebih mementingkan dunia, sehingga takut berkorban untuk agamanya.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

Apabila kamu melakukan jual beli dengan sistem ‘inah, kalian berada di belakang ekor sapi, ridha dengan cocok tanam dan meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menjadikan kalian dalam kondisi kehinaan, Allah tidak akan mencabut kehinaan itu sampai kalian kembali kepada agama kalian. (HR. Abu Daud dan dishahihkan al-Albani)

Karena itu, para sahabat memahami bentuk membinasakan diri ketika kaum muslimin tidak mau berkorban, dan lebih memihak harta.

Allah berfirman di surat al-Baqarah:
وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ
Berinfaqlah di jalan Allah dan jangan kalian menjerumuskan diri kalian ke dalam kebinasaan… (QS. al-Baqarah: 195).

Aslam bin Imran bercerita tentang ayat ini,
Dulu kami pernah di Romawi, lalu kami melihat ada pasukan romawi yang luar biasa banyaknya. Tiba-tiba ada seorang pasukan muslim meringsek masuk menyerang pasukan Romawi sendirian. Hingga banyak orang berkomentar,
سُبْحَانَ اللَّهِ ! يُلْقِي بِيَدَيْهِ إِلَى التَّهْلُكَةِ
“Subhanallah, orang ini membinasakan dirinya sendiri.”

Mendengar komentar mereka, sahabat Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu 'anhu langsung meluruskan,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ ، إِنَّكُمْ تَتَأَوَّلُونَ هَذِهِ الآيَةَ هَذَا التَّأْوِيلَ ، وَإِنَّمَا أُنْزِلَتْ هَذِهِ الآيَةَ فِينَا مَعْشَرَ الأَنْصَارِ ، لَمَّا أَعَزَّ اللَّهُ الإِسْلامَ ، وَكَثُرَ نَاصِرُوهُ ، فَقَالَ بَعْضُنَا لِبَعْضٍ سِرًّا دُونَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ أَمْوَالَنَا قَدْ ضَاعَتْ ، وَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَعَزَّ الإِسْلامَ ، وَكَثُرَ نَاصِرُوهُ ، فَلَوْ أَقَمْنَا فِي أَمْوَالِنَا فَأَصْلَحْنَا مَا ضَاعَ مِنْهَا ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَلَى نَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرُدُّ عَلَيْنَا مَا قُلْنَا
Wahai sekalian manusia, kalian memahami ayat dengan tafsir yang tidak benar. Ayat ini – al-Baqarah: 195 – turun tentang kasus kami, orang anshar. Ketika Allah sudah memenangkan islam, dan banyak yang pengikutnya, sebagian orang anshar bisik-bisik dengan sesama mereka, tanpa diketahui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,

“Harta kita sudah habis, sementara Allah telah memenangkan islam, pengikutnya sudah banyak. Coba kita urusi harta kita, dan kita cari ganti rugi harta yang kemarin.”

Kemudian Allah menurunkan surat AlBaqarah: 195 kepada Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam, membantah apa yang kami ucapkan.

Kemudian Abu Ayub mengatakan,
فَكَانَتْ التَّهْلُكَةُ الإِقَامَةَ عَلَى الأَمْوَالِ وَإِصْلاحِهَا ، وَتَرْكَنَا الْغَزْوَ
Kebinasaan itu adalah ketika orang sibuk dengan dunia dan sibuk memperhatikan harta, serta meninggalkan jihad. (Tafsir al-Qurthubi, 2/362).

Ketika kaum muslimin hanya sibuk dengan kepentingan pribadi, yang dipikirkan hanya bagaimana agar bisa sukses, atau minimal mempertahankan kesuksesan, di saat itulah mereka akan ketakutan berkorban. Tidak heran jika mereka jadi bulan-bulanan umat non muslim.

Tsauban bercerita, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا
Sebentar lagi, semua umat (kafir) berebut untuk menguasai kalian, sebagaimana mereka berebut makanan.
Para sahabat bertanya, “Apakah karena jumlah kami sedikit?”
Jawab Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,
بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ
Bahkan kalian jumlahnya banyak ketika itu, namun kalian buih seperti buih di lautan. Dan Allah akan cabut kewibawaan kalian di hadapan musuh kalian. Dan Allah akan menyematkan penyakit wahn di hati kalian.

Sahabat bertanya, “Apa itu wahn?”
Jawab beliau,
حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ
“Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Daud 4299 dan dishahihkan al-Albani).


Demikian, Allahu a’lam.

Disusun oleh Ustadz Ammi Nur Baits
More aboutJangan Takut Berkorban Agar Kalian tidak Menjadi Korban

AMPUNAN DI TEMPAT TIDUR, MAU ???

Posted by Ichsan Jufri on 26 September 2017

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ : ( من قال حين يأوي إلى فراشه : لا إله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير لا حول ولا قوة إلا بالله سبحان الله والحمد لله ولا إله الله والله أكبر غَفَرَ اللهُ ذُنُوْبَهُ أَوْ خَطَايَاهُ ـ شَكَّ مِسْعَرٌ ـ وَإِنْ كَانَ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ )

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallama, beliau telah bersabda :  “Barangsiapa mengatakan ketika ia berada di tempat tidurnya : Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-in qadiir(un). Laa haula wa laa quwwata illaa billaahi, Subhaanallahi wal hamdulillaahi wa laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar(u)

yang artinya-
"Tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya lah semua kekuasaan dan pujian, dan Dia adalah Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan upaya untuk mentaati Allah dan menjauhi kemaksiatan kepada-Nya kecuali dengan bantuan dan pertolongan Allah. Maha Suci Allah, Segala puji milik Allah, Tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah dan Allah adalah Maha Besar’,
maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya atau kesalahan-kesalahannya –Mis’ar sang perawi ragu- meskipun ia sebanyak buih di lautan.” 

[HR. Ibnu Hibban rahimahullahu dalam shahihnya no. 5528, Maktabah Syamilah. Hadits ini dimasukkan Syaikh Al Albani rahimahullahu dalam Ash Shahihah (kumpulan hadits-hadits yang sah) miliknya no. 3414, Maktabah Syamilah]

Wa shallallahu wa sallama 'alaa Nabiyyinaa Muhammad

☝ibnu mukhtar
More aboutAMPUNAN DI TEMPAT TIDUR, MAU ???