Kredibilitas

Posted by Ichsan Jufri on 04 May 2016

Terkadang saya dihadapkan pada pertanyaan tentang aspek terpenting dalam membangun sebuah bisnis, maka jawabannya adalah : Skill - Credibility - Network. Dan jika kita harus memilih satu diantara tiga hal terbut tadi, maka saya akan memilih Credibility; mengapa ? sebab kredibilitas adalah yang paling utama di dunia bisnis. 

Lantas apa itu Kredibilitas?

Kredibilitas adalah nama baik, kredibilitas yang dibangun dimasa lalu. Kalau elemen pembangun kredibilitas yang tepat, saya setuju memilih kata amanah, karena sudah mencakup seluruhnya, bahkan lebih daripada itu. Jika Kredibilitas yang diketahui orang hanya tampak dari permukaan, amanah sejatinya adalah kredibilitas yang dibangun untuk ‘bumi’ dan ‘langit’.

Contoh pembeda, seseorang bisa saja melakukan sesuatu yang benar (dan baik) di depan orang lain untuk tetap menjaga reputasinya sebagai ‘orang baik’. Kalau yang disebut amanah, dia melakukan bukan karena sedang dilihat oleh orang lain, namun sedang dilihat Allah. Jika tak ada fitnah, maka semestinya seorang yang amanah akan memiliki kredibilitas dunia dan surga. Sangat berat menggunakan kata amanah yang menjadi salah satu dari sifat Nabi. Semoga kita dapat meneladaninya.

Amanah bukan sekadar jujur (luar dalam), tapi ‘ANDAL’. Orang yang jujur, tapi gak bisa diandalkan, akan sering mengecewakan saat mengemban tugas. Contoh kongkritnya: pernahkah Anda memiliki seorang kawan atau karyawan yang jujur, namun pemalas, baik malas kerja atau malas belajar? Maukah Anda mempekerjakan atau menginvestasikan uang Anda ke dia? Mikir kan..?!

Masalahnya bukan sesederhana itu, kredibilitas seseorang dibangun dari ratusan bahkan ribuan ‘tugas’ yang diamanahkan kepadanya atau tidak secara langsung. Bisa jadi atasan Anda tak melihat Anda bekerja keras, namun orang lain yang melihat, akan mencatat kredibilitas Anda. Selain tugas, sikap ringan tangan dalam membantu, ringan kaki dalam bersilaturahim, kerja keras, loyal, rendah hati, pemurah, itu semua membentuk penilaian orang terhadap kita. Itulah kredibilitas.

Sebaliknya, sikap banyak alasan, menyalahkan, khianat, penjilat, kikir (harta ataupun ilmu), malas, sombong, itu juga kredibilitas, tapi yang buruk.

Seseorang yang jatuh bangkrut, tergencet hutang dagang (tak disengaja), namun bertanggung jawab dan tidak lari, itupun membangun kredibilitas.

Jadi dimanapun kita berkarya, apapun posisi kita, bagaimanapun kondisi kita, sesungguhnya kita sedang membangun rapor kredibilitas kita. Tak heran jika dikatakan, “Nasibmu adalah hasil kebiasaanmu”. Seolah di mata orang yang mengenal kita, ada suatu Cap di Jidat.

Kira-kira, apa cap kebanyakan orang terhadap diri Anda? Dijawab dalam hati saja, karena hal itu bukan untuk orang luar, tapi untuk diri Anda sendiri.

Cap ini juga yang akan digunakan saat perekrutan dan mencari partner. Tanya kanan, kiri, atas, bawah, luar, dalam. Tak kan lepas kita terhadap apa yang pernah kita perbuat. Maka dari itu berhati-hatilah dalam bertindak. Apalagi di jaman internet dan media sosial, transparasi informasi tak dapat dibendung, kecuali oleh para hacker.

“Your quality will be known among your enemies, before ever you meet them, my friend..” ~ Kingdom of Heaven and earth

Jika orang tak mempercayai kita dan itu sering terjadi, tanyakan pada diri sendiri, kemungkinan besar itulah buah dari yang kita tanam dahulu. Atau mungkin kita belum banyak menanam, mungkin juga belum berbuah.

“You reap what you sow”

“I have long feared that my sins would return to visit me, and the cost is more than I can bear.”, Benjamin Martin, The Patriot.

Semoga Allah menutup segala aib kita dan membuka pintu hidayah kita, serta memberikan kesempatan bagi kita untuk memperbaiki amalan-amalan kita. Aamiin.. [JW]

More aboutKredibilitas

Belajar Bijaksana

Posted by Ichsan Jufri on 30 January 2016

Belajar Menjadi Bijak

Disadari atau tidak; terkadang karena minimnya pengetahuan kita, masalah yang seharusnya bisa disikapi dengan bijak malah menjadi sebaliknya. Hal yang seharusnya bisa dijadikan pelajaran serta diambil hikmahnya, malah menjadi hukuman dan penyesalan yang tiada hentinya. Hal yang bisa dikomunikasikan malah menjadi kekecewaan. Hal yang sepele dan mudah manjadi segunung gede dan susah. Hal yang sederhana menjadi rumit luar biasa karena ulah kita juga.

Belajar Menjadi Lebih Bijak

Maka tidak heran banyak sekali kegagalan dan kehancuran keluarga disebabkan karena tidak bijaknya keluarga tersebut menyikapi sebuah permasalahan. Satu hal utama yang dilupakan adalah konsep dan komitmen di awal untuk berkomunikasi membangun kesepakatan. Alangkah baiknya jika semua hal itu dikonsep lebih awal dengan pola komunikatif dan komitmen. Jika perlu kita tanyakan kepada pasangan kita: “Kamu  ingin aku seperti apa?”. Sedetail dan seawal mungkin dibangun kesepakatan-kesepakatan bersama, sehingga setiap value akan terkomunikasikan. Jangan sampai setelah bahtera sudah sampai tengah lautan, limbung kemudian karam karena tidak adanya aturan/komitmen antar penumpangnya. Jangan sampai juga anak yang membutuhkan teladan tapi orangtua malah memperdebatkan. Sungguh luar biasa efek dari komunikasi dan kesepakatan-kesepakatan yang dibuat bersama ini.

Belajar dari Sejarah untuk Menjadi Bijak

Ada seorang salafusshalih ketika malam pertama, mulai ba’da isya sampai menjelang shubuh hanya diisi dengan saling bertanya dan menyepakati value mengenai diri pribadi masing–masing. Jadi dibahas detail mulai apa yang disukai, apa yang tidak disukai, siapa teman yang harus dihormati, siapa keluarga yang harus didahulukan dibantu, apa yang harus dilakukan ketika ini, ketika itu dan bahkan apa yang harus dilakukan ketika masing–masing marah serta masih banyak kesepakatan-kesepakatan lain yang bisa dikomitmenkan.

Belajar "Menjadi" Bijaksana itu harus mempersiapkan "kebijakan" Ekstra

Jadi jika diantara pasangan kita menghadapi masalah, mungkin sedang marah, atau sedang sedih, sedang galau, sedang tidak semangat, maka kembalikan lagi kepada kesepakatan yang sudah dibuat. InsyaAllah akan lebih mudah bagi kita untuk mengambil sikap, kebijakan dan juga keputusan. Tentunya dengan kesabaran dan komitmen dalam segala proses menjalani kesepakatan yang sudah dibuat.

jangan pernah berhenti Belajar Menjadi Lebih Bijak

Rona kehidupan dengan berbagai antribut permasalahannya tidak lepas dari kehidupan kita. Bagai bintang di langit, rasanya hidup itu tidak lengkap tanpa adanya sebuah ‘masalah’. Bahkan justru dengan masalah tersebutlah kita akan lebih matang dan lebih bijak dalam mengarungi samudera kehidupan. Dengan masalah kita juga akan dinaikkan derajatnya, sebagaimana Allah menguji para hambaNya yang beriman untuk naik kelas.  Bahkan para Rasul dan Nabi pun tidak luput dari ujian dan masalah, yang kalau mau kita telaah, lebih besar dan berat kadarnya. Maka selayaknya setiap masalah tidak perlu terlalu kita permasalahkan, tetapi sejatinya yang kita butuhkan adalah bagaimana kita bersikap dan bagaiamana kita mengambil hikmah dibalik masalah tersebut. Semoga dengan membangun komunikasi dan komitmen, masalah menjadi lebih tidak bermasalah.

Maka mari selagi sempat dan tiada kata terlambat. Dalam kondisi apapun dan bagaimanapun, terutama dengan keluarga kita, dengan pasangan kita, dengan anak-anak kita, dengan masyarakat umum juga, kita perbaiki komitmen, kesepakatan dan komunikasi kita. Wallahu a’lam bishowab. (keluargabahagia/maribagikan)
More aboutBelajar Bijaksana

Wedding Anniversary, Islamic New Year and Birthday

Posted by Ichsan Jufri on 14 October 2015

Special Moment; Wedding Anniversary, Islamic New Year and my Birthday

Wedding Anniversary


Islamic New Year 1437 H. 2015 M.

My Birthday

More aboutWedding Anniversary, Islamic New Year and Birthday

Media 'Israel': Hamas Makin Arogan dan Ganas

Posted by Ichsan Jufri on 02 August 2014

oleh : Shalih Nuami

Agresi 'Israel' ke Jalur Gaza kali ini berangkat dari empat asumsi yang semuanya salah. Para penentu kebijakan 'Israel' di Tel Aviv meyakini bahwa lepasnya sekutu-sekutu di kawasan regional seperti Suriah dan Iran, ditambah lagi rekonsiliasi Palestina yang akhirnya tidak memberikan dampak positif apapun kepada Hamas sehingga gerakan ini dianggap mengalami kondisi paling lemah sejak dididikan pada Desember 1987. Inilah asumsi 'Israel' ketika mengawali perang ke Gaza.

Bahkan Benjemen Netayahu mengasumsikan kondisi Hamas akan bisa dikuasasi dan bisa dikendalikan di saat perang, bahkan masa berakhirnya perang itu bisa ditentukan sesuai dengan kepentingan 'Israel'. Sebelum perang digelar, 'Israel' sangat bernafsu menggelar agresi untuk segera memetik kemenangan karena rezim Mesir membantu memblokade Hamas di Jalur Gaza dan menghancurkan terowongan-terowongan di bawah tanah. Kekuatan militer Hamas dianggap melemah, terutama gudang roket-roketnya yang berjarak menengah.

Di perang November 2012, 'Israel' mengklaim menghancurkan gudang roket Hamas jenis Fajr 5 yang disuplai Iran dan mereka hanya memiliki beberapa puluh roket sisasnya seperti M 75 buatan lokal.

Dalam perjalanan pertempuran, ternyata prediksi Tel Aviv itu tidak akurat. Perang Mesir terhadap terowongan dan usaha mereka menutup semua pintu penyelundupan senjata ke Gaza memberikan hasil berbalik. 'Israel' baru sadar bahwa penghancuran terowongan bawah tanah mendorong Brigade Al-Qassam, sayap militer Hamas kemudian mengandalkan kemampuan internal dalam mengembangkan dan mengkloning jenis-jenis roket baru dengan jangkauan lebih jauh dan hulu ledak lebih mematikan.

'Israel' sebelumnya meyakini jarak roket Hamas terjauh hanya bisa menjangkau Tel Aviv dan Al-Quds terjajah. Namun ternyata bisa menjangkau lebih jauh.

Untuk pertama kalinya Hamas menggunakan roket R160 atau menembus jarak 160 KM dan membawa hulu ledak seberat 245 kg bahan ledak. R160 mengungguli roket buatan Iran Fajr 5 yang diyakini 'Israel' sudah dihabisi gudangnya oleh Mesir dan sudah tidak tersedia lagi karena ditutup terowongannya. Roket-roket Hamas pun bisa menembus kota Haifa sehingga sekitar 3,5 juta warga penjajah Yahudi dalam ancaman roket Hamas.

Kini Mesir tidak lagi bisa menjadi mediator antara Hamas dan 'Israel'. Sebab selama ini Mesir sudah terbukti menjadi alat bagi 'Israel', tegas pengamat 'Israel' di Yediot Aharonot, Rony Ben Yasha. Sikap Kairo ini dianggap tidak berpihak kepada 'Israel' sebab Netanyahu saat ini sangat membutuhkan mediator untuk menghentikan pertempuran ini. Hal ini diamini oleh sejumlah pengamat 'Israel' lainya di media-media 'Israel' seperti Haaretz.

Bahkan kata pengamat 'Israel' Oreih Shavet, blokade Jalur Gaza selama ini tidak sesuai harapan 'Israel'. Bahkan Hamas semakin kuat, sadis dan brutal. Karena Hamas saat diyakini berteperang untuk mencari eksistensi mereka bukan hanya bertahan. Gadon Leivi, pengamat 'Israel' lainnya mengecam pemerintah Netanyahu yang berperang berangkat dan asumsi salah bahwa Hamas akan bersikap seperti perkiraan 'Israel'. Menurutnya, reaksi Hamas dianggap wajar terhadap usaha 'Israel' dan Mesir yang bukan hanya ingin menekuk Hamas tapi membunuh warga Gaza secara pelan-pelan. (bsyr)

More aboutMedia 'Israel': Hamas Makin Arogan dan Ganas

New York Time: Kisah Persekutuan Segitiga Arab, Amerika, Israel Hadapi Hamas

Posted by Ichsan Jufri

New York Times - Pusat Informasi Palestina: Koresponden koran New York Times David Kirkpatrick mengatakan, "Kira-kira dua tahun lalu, ketika Israel menyerang Gaza, entitas Zionis itu mengalami tekanan dari semua pihak dan negara-negara Arab tetangganya untuk menghentikan peperangan. Namun ternyata itu tidak terjadi terjadi sekarang."

Kirkpatrick menambahkan, kudeta militer atas pemerintahan Islam di Kairo (Mesir) tahun lalu menggiring dan memimpin persekutuan baru negara-negara Arab - termasuk Arab Saudi, Emirat Arab, dan Jordania yang berdiri bersama Israel melawan Hamas yang menguasai Jalur Gaza. Inilah yang menjadi faktor kegagalan "para pemain" dalam perang untuk menyepakati gencatan senjata meski sudah berlangsung tiga pekan.

Kirkpatrick mengutip tulisan David Aron Miller, mantan perunding dan peneliti di lembaga peneliti Wilson di Washington bahwa kemarahan dan ketakutan negara-negara Arab terhadap Islam politik melampaui kepekaan mereka terhadap orang Israel seperti Benjemen Netanyahu, Perdana Menteri Israel saat ini.

Ia menembahkan, saya tidak melihat sikap seperti ini, dimana jumlah negara Arab sebesar ini sepakat ingin mematikan, menghancurkan Gaza dan Hamas.

Meski Mesir - secara tradisional - dianggap sebagai mediator utama dalam pembicaraan negoisasi dengan Hamas, namun pemerintah Kairo mengejutkan Hamas kali ini dengan mengusulkan gencatan senjata dengan hanya merespon syarat dari Israel dan sama sekali mengabaikan tuntutan Hamas. Saat Hamas menolak gencatan senjata ini, Mesir ternyata tetap keuhkeuh dengan prakarsanya dan dianggapnya sebagai titik awal dari semua pembicaraan gencatan senjata, tegas Muller.

Simpatisan Palestina mengkritik prakarsan Mesir itu sebagai akal-akalan memojokkan Hamas. Sementeara negara-negara sekutu Mesir memujinya. Pangeran Saudi mengontak presiden Abdul Fattah Sisi menyambut inisiatif itu. Bahkan Al-Sisi mengatakan, "Kucuran darah sipil Palestina yang membayar mahal harga konfrontasi militer yang seharusnya mereka (sipil) tidak bertanggungjawab atasnya".

Menurut Khalid Jundi, mantan penasehat perunding Palestina, bahwa jelas ada kepentingan bersama antara rezim-rezim Arab tersebut dengan Israel. "Perang Mesir atas kekuatan Islam politik dan perang Israel atas ekstrimis Palestina memiliki kesamaan. Ini mirip perang agenci, dimana Israel perang mewakili kepentingan negara-negara Arab melawan Hamas.??"

Alih-alih Israel terkucil, justru akibat Arab Spring, entitas Zionis ini menjadi pemetik kepentingan terbanyak dari bebagai macam kekacauan di dunia Arab.

Mesir justru juga menuding Hamas secara tidak langsung bertanggungjawab atas tewasnya korban yang begitu banya, yang seharusnya menuding Israel. Mesir juga menuding Hamas sebagai alat konspirasi Islam regional untuk menciptakan kerusuhan.

Pada saat yang sama, Mesir terus menekan Gaza dengan menutup terus menerus perlintasan dan menghancurkan Gaza. (at/Infopalestina.com)
More aboutNew York Time: Kisah Persekutuan Segitiga Arab, Amerika, Israel Hadapi Hamas