Nikmat Dalam Sakit

Posted by Ichsan Jufri on 25 September 2017

Seorang yang hidup di dunia pasti akan mengalami berbagai jenis keadaan yang berbeda. Terkadang ia sehat, namun di lain waktu ia juga sakit. Tentunya yang diinginkan setiap orang adalah kondisi sehat. Makanya banyak yang mengeluh saat diuji Allah dengan sakit.


Namun tahukah Anda bahwa dibalik sakit itu ternyata ada berbagai kenikmatan? Apa saja? Diantaranya:

Pertama: Sakit itu MENGURANGI DOSA

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menjelaskan,

“Tidaklah ada kelelahan, sakit, kesedihan, kekhawatiran, gangguan dan kesusahan yang sangat yang diderita seorang muslim, bahkan sampai duri yang menancap di tubuhnya; melainkan Allah akan menjadikannya sebagai penggugur sebagian dosa-dosanya.” HR. Bukhari dan Muslim


Kedua: Dengan bersabar, sakit akan menjadi ‘MESIN’ PAHALA


Allah Ta’ala berfirman,


“إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ“
Artinya: “Hanya orang-orang yang bersabarlah yang diberi pahala sempurna tanpa batas”. QS. Az-Zumar (39): 10.


Ketiga: Sakit bisa MENYADARKAN DIRI DARI KELALAIAN


Dalam al-Qur’an ditegaskan,


“ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ“
Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena pebuatan tangan manusia. Allah mengehendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.QS. Ar-Rum (30): 41.


Keempat: Sakit mengingatkan NIKMAT SEHAT


Seorang penyair berkata,

“Kesehatan adalah mahkota di atas kepala orang-orang yang sehat. Yang bisa melihatnya hanyalah orang-orang yang sakit”.


Dan masih banyak lagi hikmah-hikmah dibalik sakit. Maka janganlah habiskan waktu Anda untuk banyak mengeluh, sebab ternyata dibalik sakit terdapat nikmat tak terhingga.

☝ Ustadz Abdullah Zaen
More aboutNikmat Dalam Sakit

Selamat Tahun Baru Hijriah !

Posted by Ichsan Jufri on 22 September 2017

Tulisan Ustadz Najmi Umar Bakkar  tentang urgensi waktu yang lebih berharga dari harta berjudul "Untuk Apa Umurmu Engkau Habiskan...?" dapat kita jadikan sebagai bahan muhasabah di awal Tahun Baru Islam, berikut tulisan beliau kamu repost dari akun telegram #Cahaya_Sunnah.

"Untuk Apa Umurmu Engkau Habiskan?"

Ketahuilah... Setiap tarikan dan desahan nafas, saat menjalani waktu demi waktu, adalah langkah menuju kubur...
Manusia akan merugi apabila harinya berlalu begitu saja, tidak bertambah iman, ilmu dan amalnya...

Waktu itu lebih berharga dari pada harta. Seandainya seseorang yang sedang menghadapi kematian, lalu dia letakkan semua hartanya untuk memperpanjang usianya satu hari saja, apakah dia akan mendapatkan penundaan dan perpanjangan waktu tersebut...?

Setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun dan sepanjang perjalanan hidup akan ditanya, dan diminta pertanggungjawabannya dihadapan Allah Ta'ala...

Allah Ta'ala berfirman :
"Tetapi kamu pasti akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan" (QS. An-Nahl [16]: 93)

Ternyata amal tak seberapa...
Sedekah dan infaq cuma sekedarnya...
Mengajarkan ilmu tak pernah ada...
Silaturrahim pun rusak semua...

Jika sudah demikian, apakah ruh ini tidak akan melolong, meraung, menjerit menahan kesakitan di saat berpisah dari tubuh waktu sakaratul maut...?

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

‏ لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ ‏

(1). "Kedua kaki setiap hamba pada hari Kiamat tidak akan beranjak hingga ia ditanya tentang usianya, untuk apa ia habiskan ? Tentang ilmunya, sudahkah ia amalkan ? Tentang hartanya, dari mana ia mendapatkannya dan untuk apa ia belanjakan ? Dan tentang tubuhnya untuk apa ia gunakan ?" (HR. At-Tirmidzi no. 2417, ad-Daarimi no. 537 dan Abu Ya'la no. 7434, hadits dari Abu Barzah al-Aslamy, lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 946)
(2). "Diantara (tanda) baiknya keislaman seseorang adalah ia meninggalkan apa yang tidak bermanfaat untuknya" (HR. At-Tirmidzi no. 2318 dan Ahmad no. 1737, hadits dari al-Husain bin Ali, lihat Shahiihul Jaami' ash-Shaghiir no. 5911)


Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata :

اِضَاعَةُ الوَقْتِ اَشَدُّ مِنَ الموْتِ لِاَنَّ اِضَاعَةَ الوَقْتِ تَقْطَعُكَ عَنِ اللهِ وَالدَّارِ الآخِرَةِ وَالموْتِ يَقْطَعُكَ عَنِ الدُّنْيَا وَاَهْلِهَا
Menyia-nyiakan waktu itu lebih dahsyat dari pada kematian. Karena menyia-nyiakan waktu memutuskanmu dari (mengingat) Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanya memutuskanmu dari dunia dan penghuninya (Al-Fawaaid hal 64)

Waktu manusia adalah umurnya...

Waktu tersebut adalah waktu yang dimanfaatkan untuk mendapatkan kehidupan yang abadi dan penuh kenikmatan dan terbebas dari kesempitan dan adzab yang pedih...

Berlalunya waktu lebih cepat dari berjalannya awan. Barangsiapa yang waktunya hanya untuk ketaatan dan beribadah kepada Allah, maka itulah waktu dan umurnya yang sebenarnya...

Selain itu maka tidak dinilai sebagai kehidupannya, namun ia hanya teranggap seperti KEHIDUPAN BINATANG TERNAK...

Jika waktu itu hanya dihabiskan untuk hal-hal yang membuatnya lalai, untuk sekedar menghamburkan syahwat, untuk berangan-angan yang batil, hanya dihabiskan dengan banyak tidur dan digunakan dalam kebatilan, maka sungguh KEMATIAN LEBIH LAYAK BAGI DIRINYA..." (Al-Jawabul Kaafi hal 109)

Muhammad bin Abdil Baqi rahimahullah berkata :

ما اعلم اني ضيعت ساعة من عمري في لهو او لعب
"Tidaklah aku mengetahui, jika aku pernah melalaikan sesaat saja dari umurku hanya untuk bermain-main dan senda gurau" (Siyar A'laamin Nubalaa' XX/26 oleh Imam adz-Dzahabi)

Ibnu Aqil al-Hanbali rahimahullah berkata :

اني لا يحل لي ان اضيع ساعة من عمري حتى اذا تعطل لساني عن مذاكرة و مناظرة و بصري عن مطالعة اعملت فكري في حال راحتي و انا مستطرح
"Sesungguhnya tidak halal bagiku untuk melalaikan sesaat dari umurku, sehingga jika lisan ini telah berhenti dari berdzikir dan berdiskusi, dan mata ini berhenti dari mencari pembahasan, maka aku memikirkan ilmu di saat santaiku" (Dzail Thabaqat al-Hanabilah 1/146 oleh Imam Ibnu Rajab)

Saudaraku, bagaimana dengan dirimu...?

✍ Ustadz Najmi Umar Bakkar

#SelamatTahunBaruHijriah!
#ayoMengaji #MarosMengaji

More aboutSelamat Tahun Baru Hijriah !

Hafalan Qur'anmu; Tangga Syurgamu

Posted by Ichsan Jufri

Hafalan Qur'anmu; Tangga Syurgamu


Repost Silsilah Tadzkiroh Ke - 212 Chanel telegram : @mencintaialquran @islamjalanku tentang Kedudukan yang bertingkat-tingkat di surga nanti tergantung dari banyaknya hafalan seseorang di dunia 

Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا
Dikatakan kepada orang yang membaca (menghafalkan) al-Qur’an nanti, ‘Bacalah dan naiklah serta tartillah sebagaimana engkau di dunia mentartilnya! Karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca (hafal).”


Hadits ini diriwayatkan oleh imam Abu Daud dalam Sunannya no. 1464 dan imam Tirmidzi dalam sunan at-Tirmidzi, no. 2914, dan Ibnu Hibbân no. 1790 dari jalan ‘Âshim bin Abi Najûd dari Zurrin dari Abdullah bin ‘Amru secara marfu’.

Imam at-Tirmidzi menyatakan, “Hadits hasan shahih.” dan adz-Dzahabai berkata, “Shahih.”
Syaikh al-Albani rahimahullah menghukuminya dengan hadits yang hasan karena para ulama berbeda pendapat tentang tentang ‘Âshim bin Abi an-Najûd.

Syaikh al-Albani rahimahullah sendiri dalam Silsilah Ahâdîts ash-Shahîhah menyampaikan jalan periwayatan lainnya selain dari ‘Âshim bin Abi an-Najûd ini dan dari hadits Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu sehingga beliau rahimahullah menyimpulkan bahwa haditsnya adalah shahîh. Lihat Silsilah Ahâdîts ash-Shahîhah 5/281 dan 6/793.

Imam al-Khathabi rahimahullah dalam Ma’âlim as-Sunan (2/136) menjelaskan: Ada dalam atsar bahwa jumlah ayat al-Quran menentukan ukuran tangga surganya. Disampaikan kepada para penghafal al-Quran, ‘Naiklah ke tangga sesuai dengan yang kamu baca dari al-Qurân. Barangsiapa yang menyempurnakan bacaan seluruh al-Qurân maka ia mendapatkan tangga surga tertinggi dan siapa yang membaca satu juz darinya maka akan naik ke tangga sesuai ukuran tersebut. Sehingga ujungnya pahala berada pada ujungnya bacaan.”


Pernyataan imam al-Khatthabi ini disampaikan syaikh al-Albani rahimahullah dan dikomentari Syaikh al-Albani rahimahullah dengan pernyataan:

“Ketahuilah bahwa yang dimaksudkan dengan Shâhibul Qur’ân (orang yang membaca al-Qur’an) di sini adalah orang yang menghafalkannya dari hati sanubari. Sebagaimana hal ini ditafsirkan berdasarkan sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain, ‘Suatu kaum akan diimami oleh orang yang paling menghafal Kitabullah (al Qur’an).’

Kedudukan yang bertingkat-tingkat di surga

Kedudukan yang bertingkat-tingkat di surga nanti tergantung dari banyaknya hafalan seseorang di dunia dan bukan tergantung pada banyak bacaannya saat ini, sebagaimana hal ini banyak disalahpahami oleh banyak orang. Inilah keutamaan yang nampak bagi seorang yang menghafalkan al-Qur’an, namun dengan syarat hal ini dilakukan untuk mengharap wajah Allâh Azza wa Jalla semata dan bukan untuk mengharapkan dunia, dirham dan dinar. Ingatlah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

أَكْثَرَ مُنَافِقِي أُمَّتِي قُرَّاؤُهَا
“Kebanyakan orang munafik di tengah-tengah umatku adalah qurro’uha (yang menghafalkan al Qur’an dengan niat yang jelek).” [HR. Ahmad, sanadnya hasan sebagaimana dikatakan oleh Syaikh al-Albani dalam 750]. [Lihat keterangan beliau dalam Silsilah Ahâdîts ash-Shahîhah pada hadits no. 2440]


اللهم إنّا نسألك الجنة، و نعوذ بك من النار 

#AyoMengaji  #MarosMengaji

More aboutHafalan Qur'anmu; Tangga Syurgamu

Agar Kita Bahagia

Posted by Ichsan Jufri on 20 September 2017

Kumpulan Twit Ulama via telegram @twitulama sebagai bahan kontemplasi buat kita semua, berikuti ini kami repost ulang beberapa materi yang insyaAllah bermanfaat

*Qana'ah, Merasa Cukup*

Bahagia itu adalah dengan qana'ah. Siapa yang hatinya sibuk dengan akhirat, maka Allah akan bahagiakan ia walaupun dengan sesuatu yang sedikit. Siapa yang hatinya sibuk dengan dunia ,setiap kali tangannya penuh dengan dunia tersebut, maka semakin miskin hatinya.

Syaikh Abdul Aziz Ath Tharifi,
Da'i di Saudi, pernah menjabat sebagai Peneliti Ilmiah di Departemen Masalah Islam di Riyadh,
Arab Saudi. website beliau: www.altarefe.com 14/8/2016

*Perbanyak Sujud*

Ketika dunia beserta isinya membuat kita sempit, di sana ada hal sederhana yang membuat kita merasa lapang : SUJUD.

Dr. Hasan al Husaini,
Seraong Da'i dari Bahrain, anggota majelis ulama negara-negara teluk.

*Berinfaklah*

Manusia yang paling berkah hartanya adalah yang paling banyak sedekahnya.Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah sedekah itu mengurangi harta”.Dalam hadits qudsi juga Allah berfirman: “Wahai Anak Adam berinfaklah maka Aku akan berinfak kepadamu”.

Syaikh Abdul Aziz Ath Tharifi,
Da'i di Saudi, pernah menjabat sebagai Peneliti Ilmiah di Departemen Masalah Islam di Riyadh, Arab Saudi. website beliau: www.altarefe.com. 5/9/2016

*Paling Berat, Namun Bermanfaat[melawan hawa nafsu]*

Melawan hawa nafsu merupakan hal yang paling berat untuk jiwa, namun itulah yang paling bermanfaat untuknya.

Prof. Dr. Khalid Al Mushlih,
Dosen fiqh pada Universitas Al Qashim, sekaligus menantu Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.
More aboutAgar Kita Bahagia

Warisan Paling Berharga

Posted by Ichsan Jufri on 19 September 2017

Susah payah bangun rumah untuk anak cucu, padahal di masa mereka nanti rumah orangtua akan dibongkar karena dianggap kuno.
Susah payah mewariskan mobil, padahal pada di suatu masa nanti mobilnya akan dijual karena rusak atau tak dianggak laik jalan.
Susah payah mewariskan sawah, padahal sawah akan berubah perumahan orang lain karena anak cucu tak mau tanam menanam lagi.
Susah payah membangun perusahaan demi anak cucu, padahal pada suatu waktu perusahaannya akan gulung tikar karena sudah tak bisa bersaing dengan perusahaan lain yang lebih baru. 
Susah payah menabung untuk anak cucu, pada masanya uang sudah tak bernilai karena inflasi tak terkendali.
Yang masih susah payah mengumpulkan dunia demi kebahagiaan anak cucu...anda pasti akan menyesal karena pengorbanan anda tak begitu akan diharga oleh mereka. Bukan apa-apa, tapi zaman sudah berbeda. 
#Maka...
"Susah payahlah membangunkan anak cucu untuk shalat
Seriuslah mendidik anak cucu supaya hafal alquran
Disiplinlah menjadikan anak cucu supaya menjadi shalih dan shalihah
Dan tegaskanlah kepada anak cucu bahwa dunia ini hanya sementara dan penuh penyesalan, sedang akhirat adalah perjumpaan kita yang sebenarnya.
Karena itulah yang bermakna bagi mereka, bermanfaat bagi mereka, dan tak kan lekang di zaman mereka.
Dunia ditinggal mati, akhirat berjumpa pasti."

#Ustadz Rohmanto Abu Al-Laits
More aboutWarisan Paling Berharga